Tuesday, December 18, 2012

Kurikulum Dalam Persepektif Filsafat Pendidikan Islam


TUGAS KULIAH
KURIKULUM DALAM PRESPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM





   DISUSUN OLEH:
 SUBIANTORO
 CHISBULLAH HUDA
MAHMUD NB
 SUTEJO          

DOSEN : ISA ANSHORI, M.Ag.
MATA KULIAH : FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (MADIN)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah

Manusia diciptakan Allah SWT begitu mulia, karena selain bentuk yang sempurna manusia juga dibekali piranti-piranti berupa akal, fitrah, qolbu, dan nafsu sehingga ia mampu mentransformasikan segala anugerah itu untuk dapat mengaktualisasikan diri dalam mencapai kesempurnaan sebagai khalifah di muka bumi. Untuk dapat  mencapai itu semua manusia butuh proses atau kegiatan yang ilmiah yaitu pendidikan.
Pendidikan merupakan bentuk usaha sadar dan terencana yang berfungsi untuk mengembangkan potensi yang ada pada manusia agar bisa digunakan untuk kesempurnaan hidupnya dimasa depan nanti. Jika dilihat dalam perspektif Islam adalah untuk membentuk manusia menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) dan menciptakan bentuk masyarakat yang ideal dimasa depan. Dari istilah insan kamil ini maka segala aspek dalam pendidikan haruslah sesuai dengan idealitas Islam.
Setiap kegiatan yang akan dilakukan apa lagi untuk mencapai sesuatu dari yang dilakukan tersebut memerlukan suatu perencanaan atau pengorganisasian yang dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur. Demikian juga dalam suatu pendidikan baik jenis dan jenjangnya pasti memerlukan suatu program yang terencana dan sistematis sehingga dapat menghantarkan pada tujuan yang diinginkan, yang proses perencanaan ini dalam istilah pendidikan disebut dengan kurikulum.
Dalam kurikulum, tidak hanya dijabarkan serangkaian ilmu pengetahuan yang harus diajarkan oleh pendidik kepada anak didiik, tetapi juga segalah kegiatan yang bersifat kependidikan yang dipandang perlu karena mempunyai pengaruh terhadap anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan islam. Disamping itu, kurikulum juga hendaknya dapat dijadikan ukuran kwalitas proses dan keluaran pendidikan sehingga dalam kurikulum sekolah telah tergambar berbagai pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diharapkan dimiliki setiap lulusan sekolah.[1]
Salah satu tugas dari filsafat pendidikan islam adalah memberikan arah bagi tercapainya tujuan pendidikan islam. Tujuan pendidikan islam yang akan dicapai harus direncanakan atau di programkan melalui kurikulum. Oleh karena itu kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pendidikan pada lembaga pendidikan islam. Dengan demikian akan menjadi jelas dan terencana tentang bagaimana dan apa yang  harus diterapkan dalam proses belajar mengajar.
Dari uraian di atas, maka fokus pembahasan makalah ini adalah “ Bagaimana kurikulum dalam perspektif filsafat pendidikan islam “?
B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Kurikulum
2.      Ciri-Ciri Kurikulum Pendidikan Islam
3.      Asas- Asas Kurikulum Pendidikan Islam
4.      Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam

C.    Tujuan Makalah
1.      Mengetahui Apa Dan Bagaimana Kurikulum Pendidikan Islam.
2.      Mengetahui Pentingnya Kurikulum Pendidikan Islam Di Sekolah.

 
BAB  II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian  Kurikulum
 Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa latin, curriculum yang berarti bahan pengajaran. Ada yang mengatakan berasal dari bahasa prancis courier yang berarti berlari.[2] Ada pula yang mengatakan kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang artinya pelari dan “curere” yang artinya jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Jika dikaitkan dengan pendidikan, kurikulum ini berarti bahan pengajaran, sedangkan dalam kosa kata bahasa Arab istilah kurikulum dikenal dengan “manhaj” yang berarti jalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya. Jika dikaitkan dengan pendidikan berarti jalan terang yang dilalui pendidik dengan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka.[3]
Sedangkan secara terminologi, pengertian kurikulum dapat kita lihat atau baca dari para ahli berikut ini:[4]
a.    Crow and Crow : Kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.
b.    Saylor Alexander (dikutip S. Nasution) : Kurikulum bukan hanya memuat sejumlah mata pelajaran, akan tetapi termasuk juga didalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan baik di lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
c.    Hasan langgulung : Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian baik yang dilaksanakan dilingkup sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
d.   UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dikatakan bahwa kurikulum seperangkat rencana dan peratutan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum itu merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Jadi kurikulum merupakan alat dalam pencapaian tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksaan pembelajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
            Dengan demikian, pengertian kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajar saja. Akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksaannya bukan hanya disekolah, tapi juga diluar sekolah.
            Dalam pengajaran biasanya hanya terfokus pada ruang kelas saja, tapi dengan perkembangan yang terjadi saat ini sumber pendidikan dapat diperoleh dari berbagai hal diluar kelas seperti perpustakaan, museum, majalah, televisi, surat kabar, radio dan yang lebih memudahkan lagi adalah internet yang segala sesuatunya ada informasi didalamnya.
            Jadi kurikulum juga harus mempertimbangkan hal itu agar peserta didik bisa terus mengikuti perkembangan dari suatu ilmu pengetahuan, tekhnologi, kebudayaan dan lain sebagainya yang ada diluar dari sekolah agar tidak dicap sebagai siswa yang gagal akan perkembangan zaman.
B.     Ciri-Ciri Kurikulum Pendidikan Islam
            Secara umum, kurikulum tersusun dengan beberapa aspek utama yang menjadi cirrinya. Hasan Langgulung mengungkapkan empat ciri-ciri utama dari kurikulum, yaitu:
·         Tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh kurikulum itu.
·         Pengetahuan (knowledge) ilmu-ilmu data, aktivitas-aktivitasnya dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu.
·         Metode dan cara-cara mengajar dan bimbingan yang diikuti murid-murid untuk mendorong mereka ke arah yang dikehendaki dan tujuan-tujuan yang dirancang.
·         Metode dan cara penilaian yang digunkan untuk mengukur dan menilai hasil proses pendidikan yang dirancang dalam kurikulum.
            Berangkat dari ke kempat hal yang menjadi aspek pokok kurikulum, maka jika dikaitkan dengan filsafat pendidikan yang dikembangkan pada pendidikan islam tentu semua akan menyatu dan terpadu dengan ajaran islam itu sendiri.       Pendidikan yang merupakan suatu proses memanusiaan manusia pada hakekatnya adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas manusia. Oleh karena itu, setiap proses pendidikan akan berusaha mengembangkan seluas-luasnya potensi individu sebagai sebuah elemen penting untuk mengembangkan dan mengubah masyarakat (agent of change). Dalam upaya itu, setiap proses pendidikan membutuhkan seperangkat sistem yang mampu mentransformasi pengetahuan, pemahaman, dan perilaku peserta didik. Dan salah satu komponen operasional pendidikan sebagai sistem adalah kurikulum, dimana ketika kata itu dikatakan, maka akan mengandung pengertian bahwa materi yang diajarkan atau dididikkan telah tersusun secara sistematik dengan tujuan yang hendak dicapai.
            Omar Mohammad al- Toumy al- Syaibany menyebutkan lima ciri kurikulum pendidikan islam sebagai berikut;
     I.          Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan – kandungan, metode-metode,alat-alat, dan tekniknya bercorak agama.
  II.          Meluas cakupannya dan menyeluruh kandungannya.
III.          Bersikap seimbang diantara berbagai ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan digunakan. Selain itu juga seimbang antara pengetahuan yang berguna bagi pengembangan individual dan pengembangan social.
IV.          Bersikap menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh anak didik.
  V.          Kurikulum yang disusun selalu disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik.[5]
Sedangkan Al-Shaybani mengatakan bahwa kurikulum pendidikan islam haruslah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
ΓΌ  Menonjolkan mata pelajaran dan akhlak .
Agama dan akhlak seharusnya diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta contoh-contoh dari orang terdahulu yang sholeh.
ΓΌ  Memperhatikan pengembangan yang menyeluruh dari aspek pribadi siswa yaitu jasmani, akal dan rohani
ΓΌ  Memperhatikan keseimbangan antara pribadi dan masyarakat, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, keseimbangan itu tentunya bersifat relative karena tidak dapat diukur secara objektif.
ΓΌ  Memperhatikan juga seni halus,seperti ukir, pahat, tulis indah, gambar dan sejenisnya.Selain itu juga memperhatikan pendidikan jasmani seperti latihan militer, tehnik, keterampilan dan bahasa asing sekalipun, semua ini diberikan kepada perorangan secara aktif sesuai bakat, minat,dan kebutuhan.
ΓΌ  Mempertimbangkan perbedaan-perbedaan kebudayaan yang sering terdapat di tengah manusia karena perbedaan tempat dan perbedaan zaman. Kurikulum dirancang sesuai kebudayaan.[6]

C.    Asas-Asas Kurikulum
              Secara teoritis penyusunan sebuah kurikulum harus berdasarkan asas-asas tertentu. Asas – asas tersebut antara lain menurut S. Nasution yaitu :
1.      Asas Filosofis
Berperan sebagai penentuan tujuan umum pendidikan sehingga penyusunan kurikulum mengandung kebenaran, dimana asas ini merupakan pandangan hidup mendidik anak sesuai dengan tujuan pendidikan.
Asas filosofis membawa rumusan kurikulum pendidikan islam kepada tiga dimensi:ontologi, epistemologi, dan aksiologi.Dimensi ontologi mengarahkan kurikulum agar lebih banyak memberi anak didik kesempatan untuk berhubungan langsung dengan fisik-fisik, obyek-obyek.Pada mulanya dimensi ini diterapkan Allah SWT.dalam pengajaranNya kepada nabi Adam as dengan memberitahukan atau mengajarkan nama-nama benda (QS.Al-Baqarah{2}:31) dan belum sampai pada tahap penalaran atau pengembangan wawasan.Demensi epistemologi adalah perwujudan kurikulum yang sah,yang berdasarkan metode kontruksi pengetahuan yang disebut metode ilmiah,yang sifatnya mengajak berfikir menyeluruh,reflektif dan kritis, implikasi dimensi epistemologi dalam rumusan kurikulum, isinya cenderung fleksibel karena pengetahuan yang dihasilkan tidak mutlak, tentatif dan dapat berubah-ubah. (QS.Al-Baqarah {2}:26-27); dan dimensi aksiologi mengarahkan pembentukan kurikulum agar memberikan kepuasan pada diri peserta didik agar memiliki nilai-nilai yang ideal, supaya hidup dengan baik dan terhindar dari nilai-nilai yang tidak diinginkan.Nilai-nilai ideal ini bisa menimbulkan daya guna dan fungsi yang bermanfaat bagi peserta didik dalam kelangsungan hidup menuju kesempurnaan, kenyamanan dan dijauhi dari segala sesuatu yang menimbulkan kesengsaraan atau kerugian
Tugas ketiga dimensi tersebut merupakan kerangkah dalam perumusan kurikulum pendidikan islam. Dari berbagai macam filsafat pada dasarnya memberikan khasana intelektual di bidang kurikulum pendidikan islam lainnya, semakin banyak pula kontribusi teori dan konsep. Teori dan konsep yang ditimbulkan dari berbagai macam aliran filsafat tidak dapat begitu saja diterima atau ditolak, namun diseleksi terlebih dahulu kemudian hasilnya dimodifikasi pada khasana kurikulum pendidikan islam[7]

2.    Asas Sosiologis
Memberikan dasar untuk menentukan apa saja yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3.     Asas Organisatoris
Asas ini memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagaimana bahan itu disusun, dan bagaimana penentuan luas dan urutan mata pelajaran.
4.     Asas Psikologis
Asas ini memberikan prinsip – prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai aspeknya, serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dipahami oleh anak didik sesuai dengan perkembangan.[8]

D.    Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
Menurut Al-Taumi sebagaimana yang di kutip oleh Muhammad Zein dalam bukunya ‘’ Materi filsafat pendidilan islam “, prinsip dasar yang harus dipegengi dalam menyusun kurikulum pendidikan islam adalah:
1.      Kurikulum pendidikan islam harus bertautan dengan agama,termasuk ajaran dan nilainya.
2.      Tujuan dan kandungan kurikulum pendidikan islam harus menyeluruh (universal)
3.      Tujuan dan kandungan kyrikulum pendidikan islam harus adanya keseimbangan.
4.      Kurikulum pendidikan islam harus berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan anak didik serta alam lingkungan di mana anak didik tersebut hidup.
5.      Kurikulum pendidikan islam harus dapat memelihara perbedaanindividu diantara anak didik dalam bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan mereka.
6.      Kurikulum pendidikan islam harus mengikuti perkembangan dan perubahan zaman, filsafah, prinsip, dasar, tujuan dan metode pendidikan islam harus dapat memenuhi tuntutan zaman.
7.      Kurikulum pendidikan islam harus bertautan dengan pengalaman dan aktifitas anak didik dalam masyarakat.[9]
H.M. Arifin dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan Islam” mengemukakan empat prinsip dalam penyusunan kurikulum pendidikan islam yaitu:
1.      Kurikulum pendidikan yang sejalan dengan idealitas islami adalah kurikulum yang mengandung materi (bahan) ilmu pengetahuan yang mampu berfungsi sebagai alat untuk tujuan hidup islami.
2.      Untuk berfungsi alat yang efektif mencapai tujuan tersebut, kurikulum harus nengandung tata nlai islami yang intrinsik dan ekstrinsik mampu merealisasikantujuan pendidikan islam.
3.      Kurikulum yang bercirikan islami itu diproses melalui metode yang sesuai dengan nilai yang terkandung di dalam tujuan pendidikan islam
4.      Antara kurikulum, metode, dan tujuan pendidikan islam harus saling menjiwai dalam proses mencapai produk bercita-citakan menurut ajaran islam.[10]

E.     Isi Kurikulum Pendidikan Islam
            Cakupan bahan pengajaran yang ada dalam suatu kurikulum kini terus semakin luas atau mengalami perkembangan karena tuntutan dari kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan, tekhnologi yang terjadi di dalam masyarakat, dan beban yang diberikan pada sekolah.
            Berdasarkan tuntutan perkembangan itu maka para perancang menetapakan cakupan kurikulum meliputi 4 bagian yaitunya :[11]
a.       Tujuan merupakan arah, sasaran, target yang akan dicapai melalui proses belajar mengajar.
b.      Isi merupakan bagian yang berisi pengetahuan, informasi, data, aktifitas, dan pengalaman yang diajarkan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
c.       Metode merupakan cara yang digunakan guru atau dosen kepada peserta didik untuk menyampaikan mata pelajaran agar mudah dimengerti.
d.      Evaluasi merupakan cara yang dilakukan guru untuk melakukan penilaian dan pengukuran atas hasil mata pelajaran.
Untuk menentukan kualifikasi isi kurikulum pendidikan islam dibutuhkan syarat yang perlu diajukan dalam perumusan yaitu:
a)      Materi yang disusun tidak menyalahi fitrah manusia,
b)      Adanya relevansi dengan tujuan pendidikan islam,
c)      Disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan usia peserta didik,
d)     Membawa peserta didik kepada objek empiris dan praktik langsung,
e)      Penyusunan bersifat integral, terorganisasi,
f)       Materi sesuai dengan masalah mutakhir yang sedang dibicarakan,
g)      Adanya metode yang sesuai,
h)      Materi yang diajarkan berhubungan dengan peserta didik nantinya.,
i)        Memperhatikan aspek sosial,
j)        Punya pengaruh positif,
k)      Memperhitungkan waktu, tempat,
l)        Adanya ilmu alat ayng mempelajari ilmu lain.
Setelah syarat itu dipenuhi disusunlah isi kurikulum pendidikan. Isi kurikulum menurut Ibnu Khaldum terbagi jadi 2 tingkatan:
1)      Tingkatan Pemula
Materi kurikulum difokuskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah
2)      Tingkatan Atas
Tingkatan ini punya 2 klasifikasi:
  • Ilmu yang berkaitan dengan zatnya
  • Ilmu yang berkaitan dengan ilmu lain seperti ilmu bahasa, matematika, mantiq
Menurut Al-Ghazali klasifikasi isi kurikulum pada 3 kelompok yaitu:
a.  Kelompok menurut kuantitas yang mempelajari
  • Ilmu fardhu ‘ain yaitu ilmu yang harus diketahui oleh setiap muslim yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah
  • Ilmu fardhu kifayah yaitu ilmu yang cukup dipelajari oleh sebagian orang muslim saja misalnya kedokteran, pertanian dan lainnya
b.  Kelompok menurut fungsinya
  • Ilmu tercela adalah ilmu yang tidak berguna  untuk masalah dunia maupun akhirat serta mendatangkan kerusakan
  • Ilmu terpuji adalah ilmu agama yang dapat mensucikan jiwa dan menghindari hal-hal yang buruk, serta ilmu yang dapat mendekatkan diri pada allah
  • Ilmu terpuji dalam batasan tertentu tidak bolaeh dipelajari secara mendalam karena akan mendatangkan ateis.
c.  Kelompok menurut sumbernya
  • Ilmu Syar’iyah adalah ilmu-ilmu yang didapat dari wahyu ilahi dan sabda nabi
  • Ilmu ‘Aqliyah adalah ilmu yang berasal dari akal pikiran setelah mengadakan eksperimen dan akulturas.
Allah berfirman dalam Q.S. Fushshilat ayat 53 mengenai isi kurikulum yang artinya:“Kami akan memeperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran iu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu”
Ayat tersebut terkandung 3 isi kurikulum pendidikan islam yaitunya:
1.  Isi kurikulum berdasarkan pada ketuhanan
2.  Isi kurikulum berorientasi pada manusia
3.  Isi kurikulum berorientasi pada alam.[12]

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1.      Kurikulum merupakan cakupan sejumlah mata pelajaran yang harus dilalui oleh pendidik dan anak didik sesuai tujuannya untuk tingkat tertentu yaitu untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka dimanapun usaha itu dilakukan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
2.      Filsafat pendidikan islam berperan sebagai penentu tujuan umum pendidikan, memberikan arah bagi tercapainya tujuan pendidikan islam, sehingga kurikulum mengandung nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.
3.      Asas –asas kurikulum,meliputi:
         Asas Filosofis.
         Asas Sosiologis.
               Asas Organisatoris.
         Asas Psikologis.
4.      Kurikulum pendidikan islam mempunyai ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan kurikulum yang lain dan senantiasa bersifat dinamis, terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan zaman, akan tetapi asas, materi dan  prinsip  penyusunan kurikulum tetap bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

                                                                          



DAFTAR PUSTAKA

Nugiyantoro, Burhan, ,Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah .Sebuah Pengantar Teoritis Dan Pelaksanaan , BPFE ,Yogyakarta: 1980

Al-Rasy Nata,Abudin. Filsafat Pendidikan Islam 1. Logos Wacana Ilmu, Jakarta: 1997.
Suharto,Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Ar-Ruz Media, Yogyakarta: 2006
Idin dan Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam : Pendekatan Histories, Teoritis, dan Praktis, Ciputat Press, Ciputat :  2005
Arifin, H.M. T.th, Filsafat Pendidikan Islam, cet.ke-4, Bumi Aksara Jakarta
Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Kencana, Jakarta : 2005

Uman Cholil, Ikhtisar Ilmu Pendidikan Islam, Surabaya: Duta Aksara,1998
Muhaimin & Mujib Abdul, Pemikiran Pendidikan Islam : Kajian Filosofis dan Kerangkah Dasar Oprasionalnya cet.ke 1, Trigenda Karya, Bandung: 1993





[1]  Nugiyantoro, Burhan, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah .Sebuah Pengantar Teoritis Dan Pelaksanaan (yogyakarta: BPFE, 1980),hal 21
[2] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, hlm.123
[3]  Al-Rasyidin dan Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam : Pendekatan Histories, Teoritis, dan Praktis, Ciputat : Ciputat Press, 2005,h 55-56
[4]  Abuddin Nata, Filsafat Pendidian Islam, Jakarta : Gaya Media Pratama, 2005, h 175-176
[5]  Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, hlm.127
[6]  Al-Shaybani, Umar muh.ammad Tuwmi ,Filsafat Pendidikan Islam,terj.Hasan lLanggulung(Jakarta: Bulan Bintang 1979) hal 489-517
[7]  Muhaimin & Mujib Abdul, Pemikiran Pendidikan Islam : Kajian Filosofis dan Kerangkah Dasar Oprasionalnya cet.ke 1 (Bandung:Trigenda Karya 1993) hal188-190
[8] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, hlm.125


[9]  Uman Cholil, Ikhtisar Ilmu Pendidikan Islam (Surabaya:Duta Aksara,1998)hal 46
[10]  Ibid
[11]  Op. cit Abuddin Nata, h 176-177

[12]  Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kencana, 2005, h 148-154