Wednesday, June 4, 2014

POLA INTERAKSI GURU DAN SISWA SEBAGAI CIRI KEBUDAYAAN SEKOLAH

MAKALAH SOSIOLOGI PENDIDIKAN
POLA INTERAKSI GURU DAN SISWA SEBAGAI CIRI KEBUDAYAAN SEKOLAH
Dosen
Pembimbing :
Abdul Wahab, M.E.I






Oleh :
Zaim Amaly (20111550032)

JURUSAN TARBIYAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2014
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Atas segala nikmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini, yang membahas tentang “Pola Interaksi Guru dan Siswa Sebagai Ciri Kebudayaan Sekolah
Tak lupa pula kami ucapkan terima kasih yang besar kepada Dosen pembimbing yang tanpa lelah mencurahkan segala tenaga dan waktunya untuk membimbing kami. semoga apa yang beliau lakukan mendapatkan balasan yang sesuai di sisi Allah SWT. Amin.
Akhirnya,Kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca dan jika apa yang ada dalam makalah ini tidak sesuai dan kurang berkenan Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan bagi kita semua.


                                                                                  Surabaya, 1 Mei 2014

Penulis









PENDAHULUAN
  1. Latar belakang
Fenomena yang terjadi pada dunia pendidikan sekarang adalah perilaku anak didik yang dahulu menunjukkan sifa yang  baik sekang malah sebaliknya. Hal ini dapat dilihat dari sikap siswa yang menunjukkan perilaku negatif terhadap guru. Siswa-siswa masa kini, khususnya yang menduduki sekolah-sekolah menengah di kota-kota pada umumnya hanya cenderung menghormati guru karena ada udang di balik batu. Sebagian siswa-siswa di kota menghormati guru mereka karena ingin mendapatkan nilai yang tinggi atau naik kelas dengan peringkat tinggi tanpa kerja keras[1].
Oleh sebab itu pada makalah ini akan dibahas mengenai pola interaksi guru dan siswa sebagai ciri kebudayaan sekolah. Supaya mengerti bagaimana pola inetraksi antara guru dan siswa.
  1. Rumusan masalah
1.      Apa pengertian guru dan siswa ?
2.      Bagaimana pola interaksi guru dan siswa ?
  1. Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian guru dan siswa
2.      Untuk mengetahui pola interaksi guru dan siswa


PEMBAHASAN
A.  Pengertian Guru dan Siswa
1.    Guru
Ada banyak pengertian tentang guru. Secara sederhana, pengertian guru adalah orang yang memberikan pengetahuan kepada anak didik.[2] Kata guru berasal dari bahasa indonesia yang memiliki arti orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.[3] Sedangkan dalam bahasa inggris, ada beberapa kata yang memiliki arti yang berdekatan dengan guru. Kata Teacher artinya guru, pengajar[4] kata Educator artinya pendidik, ahli mendidik[5] dan kata Tutor yang berarti guru pribadi, atau guru yang mengajar dirumah, mengajar ekstra, memberi les/pelajaran[6].
Menurut pakar pendidikan islam, Ahnad Tafsir istilah guru atau pendidik memiliki definisi yang sama dengan teori barat, pendidik ialah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dalam seluruh potensi, baik potentsi Afektif, Kognitif, dan potensi Psikomotorik.[7]
2.    Siswa (murid)
Menurut Engr Sayyid Khaim Husyain Naqawi yang dikutip oleh Abuddin Nata, menyebutkan bahwa kata murid berasal dari bahasa arab, yaitu muriidun artinya orang yang menginginkan (the willer).[8] Menurut Abuddin Nata kata murid diartikan sebagai seorang yang menginginkan dan menghendaki ilmu pengetahuan, pengalaman, kertrampilan dan kepribadian yang baik sebagai bekal untuk kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.
Menurut Ravik Karsidi murid atau anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan.[9]

B.  Pola interaksi Guru dan Siswa
1. Arti Interaksi Edukatif
     Manusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan kehadiran manusia lain. Keberadaan manusia selain diri kita menyebabkan proses hubungan timbal balik terjadi secara alamiah. Proses jalinan hubungan antar individu maupun kelompok terjadi dalam rangkaian upaya memenuhi kebutuhan. Motif saling membutuhkan yang berbeda-beda jenis.
Ilustrasi tentang interaksi diatas adalah interaksi manusia yang lazim terjadi dalam masyarakat. Hal itu berbeda dengan interaksi edukatif, interaksi tersebut dilakukan secara alamiah tanpa dilandasi pedoman tujuan yang mengikat. Mereka melakukan interaksi dengan tujuan masing-masing. Oleh karena itu, interaksi antara manusia selalu mempunyai motif-motif tertentu guna memenuhi tuntutan hidup dan kehidupan mereka masing-masing.
Interaksi yang berlangsung di sekitar kehidupan manusia dapat diubah menjadi “interaksi yang bernilai edukatif”, yakni interaksi  yang dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang. Interaksi yang bernilai pendidikan ini dalam dunia pendidikan disebut sebagai “interaksi edukatif”. Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi itu merupakan hubungan yang bermakna dan kreatif. Semua unsur interaksi edukatif harus berproses dalam ikatan tujuan pendidikan. Oleh karena itu, interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.[10]
Prosesinteraksi edukatif adalah suatu proses yang mengandung sejumlah norma. Semua norma itulah yang harus guru transfer kepada anak didik. Oleh karena itu, wajarlah bila interaksi edukatif tidak berproses dalam kehampaan, tetapi dalam penuh makna. Interaksi edukatif sebagai jembatan yang menghidupkan persenyawaan antara pengetahuan dan perbuatan, yang mengantarkan kepada tingkah laku sesuai dengan pengetahuan yang diterima anak didik. Dengan demikian dapat dipahami bahwa interaksi edukatif adalah hubungan dua arah antara guru dan anak didik dengan sejumlah norma sebagai mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan.[11]
2.  Berbagai  Bentuk Interaksi Edukatif
Belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif. Belajar mengajar adalah suatu proses yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan. Tujuan adalah sebagai pedoman ke arah manaakan di bawa proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar akan berhasil bila hasilnya mampu membawa perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap-sikap dalam diri anak didik.
Interaksi belajar mengajar dikatakan bernilai normatif karena di dalamnya ada sejumlah nilai. Jadi, adalah wajar bila interaksi itu dinilai bernilai edukatif? Guru yang dengan sadar berusaha untuk mengubah tingkah laku, sikap, dan perbuatan anak didik menjadi lebih baik, dewasa, dan bersusila yang cakap adalah sikap dan tingkah laku guru yang bernilai edukatif.
Ada tiga bentuk komunikasi antara guru dan anak didik dalam proses interaksi edukatif, yakni komunikasi sebagai aksi, komunikasi sebagai interaksi, dan komunikasi sebagai transaksi.
Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satuarah menempatkan guru sebagai pemberi aksi dan anak didik sebagai penerima aksi. Guru aktif, dan anak didik pasif. Mengajar dipandang sebagai kegiatan menyampaikan bahan pelajaran.
Dalam komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah, guru berperan sebagai pemberi aksi atau penerima aksi. Demikian pula halnya anak didik, bisa sebagai penerima aksi, bisa pula sebagai pemberi aksi. Antara guru dan anak didik akan terjadi dialog.
Dalam komunikasi sebagai transaksi atau komunikasi banyak arah, komunikasi tidak hanya terjadi antara guru dan anak didik. Anak didik dituntut lebih aktif dari pada guru, seperti halnya guru, dapat berfungsi sebagai sumber balajar bagi anak didik lain.
Usman (2000) berpendapat bahwa kegiatan interaksi belajar mengajar sangat beraneka ragam bentuk coraknya, mulai dari kegiatan yang didominasi oleh guru sampai kegiatan mandiri yang dilakukan oleh anak didik. Hal ini tentu saja sangat bergantung pada keterampilan guru dalam mengelola kegiatan interaksi belajar mengajar. Penggunaan variasi bentuk interaksi mutlak harus dilakukan oleh guru. Hal ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejenuhan, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan.[12]
3.  Pola Interaksi Guru dan Siswa
Pola interaksi guru (G)  murid (A) menurut Usman (2000), dapat diklasifikasikan setidaknya atas 5 (lima) jenis, yaitu sebagai berikut.
a.        Pola guru-anak didik
                                                                G


A                                             A                                             A
Komunikasi sebagai aksi (satu arah)
b.  Pola Guru-Anak didik-Guru
                                                                                                G


A                                             A                                             A
Ada balikan (feed back) bagi  guru, tidak ada interaksi antar siswa (komunikasi sebagai interaksi).
c.  Pola Guru-Anak didik-Anak didik
                                                                                                G

                                                                                                                          
A                                             A                                             A               
Interaksi optimal antara guru dan anak didik dan antara anak didik (komu-nikasisebagaitransaksi, multiarah).

d.  Pola Guru-Anak didik, Anak didik-Guru, Anak didik-Anak didik
G

A                                                                                             A


                                                A                                             A
   Interaksi optimal antara guru dan anak didik dan antara anak didik dengan anak didik (komunikasi sebagai transaksi, multiarah).
e.  Pola melingkar
G

 


A                                                                                             A


                                    A                                                                     A
                                               
                                                                        A
Setiap anak didik mendapat giliran untuk mengemukakan sambutan atau jawaban, tidak diperkenankan berbicara dua kali apabila setiap anak didik belum mendapat giliran.[13]
Situasi pengajaran atau proses interaksi belajar mengajar terjadi dalam berbagai pola komunikasi di atas, akan tetapi komunikasi sebagai transaksi yang dianggap sesuai untuk mengaktifkan potensi siswa/murid bisa jadi sangat tergantung situasi dan kebutuhan yang dikembangkan oleh guru, atau bisa jadi merupakan gabungan dari banyak pola interaksi diatas.[14]
PENUTUP
Kesimpulan
1.  Guru atau pendidik ialah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dalam seluruh potensi, baik potentsi Afektif, Kognitif, dan potensi Psikomotorik. Dan siswa atau anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan.
2.  Pola interaksi guru dan siswa: a). Pola guru-anak didik, b). Pola Guru-Anak didik-Guru, c). Pola Guru-Anak didik-Anak didik, d). Pola Guru-Anak didik, Anak didik-Guru, Anak didik-Anak didik, e). Pola melingkar.























DAFTAR PUSTAKA
Syah, Muhibin, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013
Karsidi, Ravik , Sosiologi  Pendidikan,  Surakarta: LPPM,  UNS, 2005
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa,  2008
M. Echols, John  dan Hasan Shadily,  Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996
Tafsir, Ahmad,  Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,  2011
Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997












[1] Muhibin syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013),  220
[2] Ravik  Karsidi,  Sosiologi  Pendidikan,  (Surakarta: LPPM,  UNS, 2005), 32.
[3] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 497.
[4] John  M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
1996), cet XXIII, hal, 581
[5] Ibid, 207
[6] Ibid,608
[7] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), 74.
[8] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), 49.
[9] Ravik  Karsidi,  Sosiologi  Pendidikan.., 32.
[10] Ravik  Karsidi,  Sosiologi  Pendidikan..,33.
[11] Ibid.
[12] Ravik  Karsidi,  Sosiologi  Pendidikan..,33-34
[13] Ravik  Karsidi,  Sosiologi  Pendidikan..,35.
[14] Ibid.

No comments:

Post a Comment

silahkan berkomentar sebagai saran dan kritik, terimakasih